Oleh : Emha Ainun Nadjib
Senin, 10 Februari 2014
Kadang Diam Itu Diperlukan
Dikutip dari : Kenduri Cinta
Oleh : Emha Ainun Nadjib
Oleh : Emha Ainun Nadjib
Sunyi itu penting, jeda itu penting. Kalau kita terlalu banyak bicara, diam itu penting. Kalau kita terlalu banyak makan, puasa itu penting. Untuk Kenduri Cinta yang selalu bersifat intelektual selama dua belas tahun terakhir, shalawatan sangat penting supaya ada jeda sunyi di antara intelektualitas itu.
Bangkitnya Garuda Sakti
Ditulis Oleh: Arya Irawan Putra Palguna
Beberapa hari ini saya sibuk mencari tahu tentang makna dari kata “pesta”. Dari membuka kamus besar Bahasa Indonesia sampai dengan berdiskusi bersama teman-teman, maka kesimpulan yang saya dapatkan dari hal tersebut adalah “pesta merupakan upaya untuk bersenang-senang dan berhura-hura”. Jika kata bersenang-senang maupun berhura-hura menjadi sebuah kalimat, maka ia dapat menjadi kalimat aktif. Subyeknya tentu orang yang dalam keadaan senang dan banyak uang.
Belakangan ini, para politisi dan partai politik sudah meramaikan televisi dan beberapa ruas jalan dengan iklan-iklan politik. Tujuannya adalah untuk meningkatkan popularitas partai politik dan para kandidat. Manajemen pencintraan menjadi penting dalam meningkatkan popularitas. Lebih dikenal di kalangan masyarakat luas dan terciptanya image positif adalah sasaran yang hendak dicapai. Janganlah anda heran jika pencintraan merupakan upaya untuk menutupi keadaan sesungguhnya. Padahal menurut mereka, hal itu adalah tindakan yang biasa dilakukan dan bukan sesuatu yang berat walaupun sesungguhnya ada sebuah pertentangan nilai.
Dalam hal ini saya mencoba mengaitkan antara pesta dengan iklan politik. Ternyata didalamnya terdapat kesamaan yaitu subyeknya sama-sama memiliki banyak uang. Jangan dulu anda berpikir negatif mengenai hal itu. Bagaimanapun iklan politik dapat memberikan kontribusi positif terhadap fondasi ekonomi nasional, menurut pendapat para pengambil kebijakan. Bukankah para pejuang devisa kita (TKI) juga memberikan kontribusi positif ? Tapi apa yang mereka rasakan ? Apresiasi dari pemerintah belumlah optimal. Jika anda kurang percaya, coba saja anda lihat dan baca dibeberapa media. Bagaimana penanganan pemerintah terhadap kekejamam para majikan terhadap TKI-TKI kita. Belum lagi TKI kita yang mengalami perlakuan tidak adil dari pemerintah setempat.
Saya sedikit mengutip dan berusaha menginteprestasikan karyanya Cak Nun mengenai pementasan teather tikungan iblis yang dilakukan beberapa hari yang lalu. Dalam hal ini saya mencoba untuk mengulas kembali tentang topik garuda sakti. Menurut karyanya Cak Nun, ratusan abad bahkan ribuan abad yang lalu di bumi nusantara telah lahir burung garuda yang gagah perkasa. Ia terbang diangkasa mengitari bumi nusantara sampai dengan sebagian tanah Asia Raya. Kepakan sayapnya diangkasa menggetarkan mahluk-mahluk dibumi. Ia begitu disegani.
Seiring berjalannya waktu, burung garuda itu melahirkan seekor anak. Anaknya melahirkan seekor anak lagi. Dan begitu seterusnya. Sampai pada suatu ketika burung garuda yang gagah perkasa, mandiri, tangguh dan bebas itu, telah menjadi burung yang tinggal dan berdiam diri pada sebuah sangkar. Di dalam sangkar itu ia kembali melahirkan anak. Dan anaknya melahirkan anak lagi, begitulah seterusnya. Karena hidupnya didalam sangkar, maka lambat laun tubuhnya mengecil, mengecil dan mengecil. Ia tidak lagi menjadi burung yang mandiri, tangguh dan gagah tetapi menjadi burung yang sudah terlena dengan suapan majikannya. Ia takut untuk terbang bebas di angkasa raya. Sehingga burung garuda yang sakti itu berproses menjelma menjadi burung emprit. Proses itu adalah sebuah degradasi. Ia sudah tidak lagi memiliki cita-cita, optimisme dan harapan untuk menjadi seperti semula. Bahkan yang paling memprihatinkan adalah ia tidak tahu lagi bahwa dirinya berasal dari seekor burung yang dulunya sakti dan gagah perkasa. Jangankan menatap masa depan, untuk menengok kebelakang saja dia tidak sanggup. Lantas bagaimana ? Mungkin yang paling tepat untuk dilakukan adalah dia harus tahu siapa dirinya. Sehingga pengetahuan itu membangkitkan kembali cita-cita, harapan dan optimisme baru. Paling tidak si burung emprit dapat menjadi makhluk yang mandiri, tangguh dan percaya diri bahwa sebenarnya dia adalah keturunan yang mulia dan diperhitungkan. Bukankah perjalanan burung garuda sakti itu, sebuah metafora Bangsa kita ?
Beberapa hari ini saya sibuk mencari tahu tentang makna dari kata “pesta”. Dari membuka kamus besar Bahasa Indonesia sampai dengan berdiskusi bersama teman-teman, maka kesimpulan yang saya dapatkan dari hal tersebut adalah “pesta merupakan upaya untuk bersenang-senang dan berhura-hura”. Jika kata bersenang-senang maupun berhura-hura menjadi sebuah kalimat, maka ia dapat menjadi kalimat aktif. Subyeknya tentu orang yang dalam keadaan senang dan banyak uang.
Belakangan ini, para politisi dan partai politik sudah meramaikan televisi dan beberapa ruas jalan dengan iklan-iklan politik. Tujuannya adalah untuk meningkatkan popularitas partai politik dan para kandidat. Manajemen pencintraan menjadi penting dalam meningkatkan popularitas. Lebih dikenal di kalangan masyarakat luas dan terciptanya image positif adalah sasaran yang hendak dicapai. Janganlah anda heran jika pencintraan merupakan upaya untuk menutupi keadaan sesungguhnya. Padahal menurut mereka, hal itu adalah tindakan yang biasa dilakukan dan bukan sesuatu yang berat walaupun sesungguhnya ada sebuah pertentangan nilai.
Dalam hal ini saya mencoba mengaitkan antara pesta dengan iklan politik. Ternyata didalamnya terdapat kesamaan yaitu subyeknya sama-sama memiliki banyak uang. Jangan dulu anda berpikir negatif mengenai hal itu. Bagaimanapun iklan politik dapat memberikan kontribusi positif terhadap fondasi ekonomi nasional, menurut pendapat para pengambil kebijakan. Bukankah para pejuang devisa kita (TKI) juga memberikan kontribusi positif ? Tapi apa yang mereka rasakan ? Apresiasi dari pemerintah belumlah optimal. Jika anda kurang percaya, coba saja anda lihat dan baca dibeberapa media. Bagaimana penanganan pemerintah terhadap kekejamam para majikan terhadap TKI-TKI kita. Belum lagi TKI kita yang mengalami perlakuan tidak adil dari pemerintah setempat.
Saya sedikit mengutip dan berusaha menginteprestasikan karyanya Cak Nun mengenai pementasan teather tikungan iblis yang dilakukan beberapa hari yang lalu. Dalam hal ini saya mencoba untuk mengulas kembali tentang topik garuda sakti. Menurut karyanya Cak Nun, ratusan abad bahkan ribuan abad yang lalu di bumi nusantara telah lahir burung garuda yang gagah perkasa. Ia terbang diangkasa mengitari bumi nusantara sampai dengan sebagian tanah Asia Raya. Kepakan sayapnya diangkasa menggetarkan mahluk-mahluk dibumi. Ia begitu disegani.
Seiring berjalannya waktu, burung garuda itu melahirkan seekor anak. Anaknya melahirkan seekor anak lagi. Dan begitu seterusnya. Sampai pada suatu ketika burung garuda yang gagah perkasa, mandiri, tangguh dan bebas itu, telah menjadi burung yang tinggal dan berdiam diri pada sebuah sangkar. Di dalam sangkar itu ia kembali melahirkan anak. Dan anaknya melahirkan anak lagi, begitulah seterusnya. Karena hidupnya didalam sangkar, maka lambat laun tubuhnya mengecil, mengecil dan mengecil. Ia tidak lagi menjadi burung yang mandiri, tangguh dan gagah tetapi menjadi burung yang sudah terlena dengan suapan majikannya. Ia takut untuk terbang bebas di angkasa raya. Sehingga burung garuda yang sakti itu berproses menjelma menjadi burung emprit. Proses itu adalah sebuah degradasi. Ia sudah tidak lagi memiliki cita-cita, optimisme dan harapan untuk menjadi seperti semula. Bahkan yang paling memprihatinkan adalah ia tidak tahu lagi bahwa dirinya berasal dari seekor burung yang dulunya sakti dan gagah perkasa. Jangankan menatap masa depan, untuk menengok kebelakang saja dia tidak sanggup. Lantas bagaimana ? Mungkin yang paling tepat untuk dilakukan adalah dia harus tahu siapa dirinya. Sehingga pengetahuan itu membangkitkan kembali cita-cita, harapan dan optimisme baru. Paling tidak si burung emprit dapat menjadi makhluk yang mandiri, tangguh dan percaya diri bahwa sebenarnya dia adalah keturunan yang mulia dan diperhitungkan. Bukankah perjalanan burung garuda sakti itu, sebuah metafora Bangsa kita ?
Langganan:
Postingan (Atom)