Ditulis Oleh: Arya Irawan Putra Palguna
Beberapa hari ini saya
sibuk mencari tahu tentang makna dari kata “pesta”. Dari membuka kamus
besar Bahasa Indonesia sampai dengan berdiskusi bersama teman-teman,
maka kesimpulan yang saya dapatkan dari hal tersebut adalah “pesta
merupakan upaya untuk bersenang-senang dan berhura-hura”. Jika kata
bersenang-senang maupun berhura-hura menjadi sebuah kalimat, maka ia
dapat menjadi kalimat aktif. Subyeknya tentu orang yang dalam keadaan
senang dan banyak uang.
Belakangan ini, para politisi dan partai
politik sudah meramaikan televisi dan beberapa ruas jalan dengan
iklan-iklan politik. Tujuannya adalah untuk meningkatkan popularitas
partai politik dan para kandidat. Manajemen pencintraan menjadi penting
dalam meningkatkan popularitas. Lebih dikenal di kalangan masyarakat
luas dan terciptanya image positif adalah sasaran yang hendak dicapai.
Janganlah anda heran jika pencintraan merupakan upaya untuk menutupi
keadaan sesungguhnya. Padahal menurut mereka, hal itu adalah tindakan
yang biasa dilakukan dan bukan sesuatu yang berat walaupun sesungguhnya
ada sebuah pertentangan nilai.
Dalam hal ini saya mencoba
mengaitkan antara pesta dengan iklan politik. Ternyata didalamnya
terdapat kesamaan yaitu subyeknya sama-sama memiliki banyak uang. Jangan
dulu anda berpikir negatif mengenai hal itu. Bagaimanapun iklan politik
dapat memberikan kontribusi positif terhadap fondasi ekonomi nasional,
menurut pendapat para pengambil kebijakan. Bukankah para pejuang devisa
kita (TKI) juga memberikan kontribusi positif ? Tapi apa yang mereka
rasakan ? Apresiasi dari pemerintah belumlah optimal. Jika anda kurang
percaya, coba saja anda lihat dan baca dibeberapa media. Bagaimana
penanganan pemerintah terhadap kekejamam para majikan terhadap TKI-TKI
kita. Belum lagi TKI kita yang mengalami perlakuan tidak adil dari
pemerintah setempat.
Saya sedikit mengutip dan berusaha
menginteprestasikan karyanya Cak Nun mengenai pementasan teather
tikungan iblis yang dilakukan beberapa hari yang lalu. Dalam hal ini
saya mencoba untuk mengulas kembali tentang topik garuda sakti. Menurut
karyanya Cak Nun, ratusan abad bahkan ribuan abad yang lalu di bumi
nusantara telah lahir burung garuda yang gagah perkasa. Ia terbang
diangkasa mengitari bumi nusantara sampai dengan sebagian tanah Asia
Raya. Kepakan sayapnya diangkasa menggetarkan mahluk-mahluk dibumi. Ia
begitu disegani.
Seiring berjalannya waktu, burung garuda itu
melahirkan seekor anak. Anaknya melahirkan seekor anak lagi. Dan begitu
seterusnya. Sampai pada suatu ketika burung garuda yang gagah perkasa,
mandiri, tangguh dan bebas itu, telah menjadi burung yang tinggal dan
berdiam diri pada sebuah sangkar. Di dalam sangkar itu ia kembali
melahirkan anak. Dan anaknya melahirkan anak lagi, begitulah seterusnya.
Karena hidupnya didalam sangkar, maka lambat laun tubuhnya mengecil,
mengecil dan mengecil. Ia tidak lagi menjadi burung yang mandiri,
tangguh dan gagah tetapi menjadi burung yang sudah terlena dengan suapan
majikannya. Ia takut untuk terbang bebas di angkasa raya. Sehingga
burung garuda yang sakti itu berproses menjelma menjadi burung emprit.
Proses itu adalah sebuah degradasi. Ia sudah tidak lagi memiliki
cita-cita, optimisme dan harapan untuk menjadi seperti semula. Bahkan
yang paling memprihatinkan adalah ia tidak tahu lagi bahwa dirinya
berasal dari seekor burung yang dulunya sakti dan gagah perkasa.
Jangankan menatap masa depan, untuk menengok kebelakang saja dia tidak
sanggup. Lantas bagaimana ? Mungkin yang paling tepat untuk dilakukan
adalah dia harus tahu siapa dirinya. Sehingga pengetahuan itu
membangkitkan kembali cita-cita, harapan dan optimisme baru. Paling
tidak si burung emprit dapat menjadi makhluk yang mandiri, tangguh dan
percaya diri bahwa sebenarnya dia adalah keturunan yang mulia dan
diperhitungkan. Bukankah perjalanan burung garuda sakti itu, sebuah
metafora Bangsa kita ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar